Just Sharing Alls Post

Get Money

Affiliate Program ”Get Money from your Website”

Anda Bertanya Ateis Menjawab

Dari Mana Datangnya Semua Ini Jika Tuhan Tidak Menciptakannya?

Menyambung tulisan saya sebelumnya mengenai “Untuk Apa Kita Hidup Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita?” (http://andabertanyaateismenjawab.wordpress.com/2013/08/05/untuk-apa-kita-hidup-jika-tuhan-tidak-menciptakan-kita), maka dalam tulisan ini saya akan kembali menulis sebuah isu yang berkaitan dengan keberadaan kita manusia dari sudut pandang yang tidak melibatkan tuhan di dalamnya.
Sebagai pengantar jika anda belum membaca tulisan saya sebelumnya dan ingin meneruskan membaca tulisan ini sampai habis tanpa berpindah halaman, rangkaian tulisan “Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita” ini saya tulis sebagai jawaban atas pertanyaan yang disampaikan kepada saya di sebuah gereja beberapa saat lalu yang kurang lebih berbunyi seperti ini:
“Memang benar bahwa saat ini ateisme dengan berbekal segala sains sekulernya telah mampu menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi di dunia ini. Namun ada satu hal dasar yang para ateis tidak bisa menjawabnya, yaitu mengenai kehidupan kita sendiri.

Para ateis tidak mampu menjawab untuk apa kita hidup dan kenapa kita bisa ada di dunia ini. Karena itulah sehebat apapun argumen ateis, saya masih memegang iman saya “
Pada tulisan sebelumnya saya telah menguraikan bahwa tanpa adanya tuhan, maka tujuan eksistensi kita yang kecil di semesta yang maha luas ini tidak terdefinisi oleh konsep agama. Sebagian orang menganggap ini mengerikan karena hidup menjadi tanpa tujuan, namun bagi mereka yang tidak bertuhan ini, hal tersebut berarti ada kebebasan yang luas untuk mendefinisikan sendiri tujuan hidup pada skala yang juga bebas ditentukan sendiri.
Kali ini saya akan membahas persoalan keberadaan kedua dari sudut pandang “Jika Tuhan Tidak Menciptakan Kita” ini yaitu bagaimana kita bisa ada seperti sekarang ini jika bukan berawal dari tuhan yang berfirman “Jadilah terang!”.
Disclaimer:
  1. Penjelasan saya pada topik ini akan sarat dengan referensi ke penjelasan – penjelasan sains ilmiah yang disederhanakan sedemikian rupa sehingga mudah diikuti termasuk oleh mereka yang masih awam, mohon maaf jika ada kesalahan yang terjadi karena penyederhanaan yang ada, pertanyaan lebih lanjut bisa ditanyakan di page facebook Anda Bertanya Ateis Menjawab (http://facebook.com/ateis.menjawab2)
  2. Jika tidak tertarik dengan penjelasan ilmiah mengenai proses munculnya anda di dunia dan ingin langsung melihat dimana posisi tuhan dalam argumen saya ini, anda bisa langsung menuju ke bagian terakhir tulisan ini “Dimanakah Tuhan?
Lahirnya Alam Semesta

Sekitar 14 milyar tahun lalu, terjadi sebuah ledakan luar biasa besar di sebuah titik di alam semesta yang masih kosong, sesuatu yang kita kenal sebagai Big Bang. Ledakan ini melahirkan partikel – partikel pertama di alam semesta dimana sebagian besar adalah atom Hidrogen. Partikel produk Big Bang ini, dengan segala implikasi dari ledakan yang maha dahsyat tersebut tersebar dengan kecepatan luar biasa, lebih cepat dari cahaya dan melebar ke seluruh penjuru alam semesta.
Bintang Dan Atom
Tahukah anda apa yang bisa terbentuk ketika atom Hidrogen berkumpul berkat gaya gravitasi antar mereka sendiri? Ya, salah satu hasilnya adalah bintang Hidrogen, dimana salah satunya adalah matahari kita, bintang yang terbentuk dari atom Hidrogen yang berkumpul.
Ketika sudah menjadi bintang Hidrogen -yang sebetulnya hanyalah sebuah bola gas raksasa saja-, maka bagian pusat dari bola akan memiliki konsentrasi tinggi dan menghasilkan tekanan dan panas yang luar biasa di dalamnya. Adanya tekanan ini akan mengakibatkan terjadinya reaksi fusi dari atom Hidrogen menjadi atom Helium, dengan efek samping berupa suhu panas dan energi yang luar biasa besar. Seiring dengan waktu, seluruh atom Hidrogen yang bisa dibakar menjadi helium akan habis, dan bintang tersebut akan mati.
Matinya sebuah bintang bisa berujung macam – macam, tergantung seberapa besar bintang tersebut. Bisa berevolusi menjadi bintang Helium yang ukurannya lebih kecil, bisa juga meledak menjadi sebuah supernova.
2
Supernova adalah ledakan luar biasa besar yang terjadi saat sebuah bintang mati. Karena besarnya energi yang terlempar, reaksi inti atom – atom yang tadinya berada di bintang tersebut pun terjadi secara besar – besaran, disinilah berbagai reaksi nuklir melahirkan partikel – partikel berat seperti logam, karbon, besi dan lain – lain, diluar daripada atom Hidrogen, Helium dan partikel – partikel ringan lainnya yang sudah terlahir sejak Big Bang maupun reaksi nuklir di dalam sebuah bintang ketika masih hidup.
Planet
Milyaran tahun setelah Big Bang dan bintang – bintang pertama di alam semesta ini lahir, mati, meledak dan berbagai nasib lainnya, alam semesta kita mulai kaya akan elemen. Dari tadinya hanya ada Hidrogen, sekarang telah muncul elemen – elemen lain dari Oksigen sampai Karbon dan Silikon.
Elemen – elemen ini mengambang begitu saja di ruang hampa. Sebagian elemen yang mengambang di sekitar sebuah bintang akan mengorbit pada bintang tersebut. Elemen – elemen ini tersedia dalam bentuk awan gas kecil sampai kepada batu – batu dengan komposisi yang berbeda – beda, untuk mudahnya kita sebut saja benda – benda tersebut sebagai benda angkasa.
Benda – benda angkasa yang beredar pada jarak orbit yang berdekatan dari planet induknya cepat atau lambat akan bertabrakan satu sama lain. Dan setelah bertabrakan, karena adanya gaya gravitasi maka keduanya justru akan menempel dan bergabung menjadi satu.
Dalam proses beberapa ratus juta atau bahkan milyar tahun, akan terjadi kestabilan, dimana untuk jarak orbit yang kurang lebih sama dari sebuah bintang, akan terbentuk satu buah benda angkasa yang cukup besar dengan berbagai macam elemen yang tersusun di dalamnya. Benda – benda yang sudah cukup besar dan relatif orbit dan bentuknya stabil inilah yang kita namai sebagai planet.

Planet pun bermacam – macam, ada yang elemen pembentuknya sebagian besar adalah elemen padat, sehingga melahirkan planet berbahan dasar batu, seperti bumi. Ada juga yang sebagian besar adalah gas, misalnya Jupiter.
Sementara itu, benda – benda angkasa lain yang belum membentuk planet akan tetap mengorbit pada bintang yang bersangkutan. Salah satu bentuk dari benda – benda angkasa ini kita kenal dalam bentuk asteroid.
Bumi, Atmosfer dan Air
Bumi pada dasarnya adalah planet yang berbahan dasar padat, dimana inti dari bumi adalah besi cair super panas. Seiring dengan stabilnya ukuran bumi, elemen – elemen yang ada di bumi pun tersusun berdasarkan beratnya. Elemen – elemen berat seperti logam akan turun ke dasar bumi, sementara gas – gas akan terlempar ke bagian atas. Pada mulanya, bumi berbentuk seperti bola lahar yang super panas di seluruh permukaannya.
Gas – gas inilah yang kemudian membentuk atmosfer dari bumi, dimana salah satu penyusunnya adalah uap H2O alias air. Beberapa ratus juta tahun setelah bumi terbentuk, dan semua elemen berat telah turun ke dasar bumi, suhu di permukaan bumi menurun, sehingga uap air yang ada di atmosfer pun bisa turun menjadi hujan.

Turunnya hujan ini menyebabkan suhu bumi menurun lebih rendah lagi, sehingga lebih banyak hujan yang terjadi. Kejadian ini berlangsung terus menerus selama beberapa ratus juta tahun sehingga suhu bumi pun stabil di permukaan, meskipun masih sangat panas di intinya sampai sekarang.
Makhluk Hidup
Air dan lautan adalah komponen penting bagi sejarah bumi. Berkat adanya air di permukaan bumi ini, berbagai reaksi kimia menjadi mungkin terjadi. Bumi telah memiliki berbagai macam elemen, juga terdapat berbagai energi yang menyambar permukaan bumi mulai dari petir hingga radiasi, dengan adanya air, berbagai reaksi kimia pun bisa terjadi. Dan salah satu elemen yang bisa terbentuk berkat adanya air di permukaan bumi adalah Asam Amino.
Ya, asam amino adalah bahan dasar dari protein, dan berbagai asam amino bisa dibentuk hanya dengan bahan dasar yang ada di bumi, petir, radiasi dan air sebagai perantara saja. Singkat cerita berbagai asam amino ini terus bermunculan berkat reaksi – reaksi yang ada hingga akhirnya antar asam amino pun bereaksi dan terbentuklah berbagai protein.
Dan di antara protein – protein itu terus menerus terjadi reaksi selama jutaan tahun hingga terbentuklah sebuah molekul bernama RNA.
Singkat cerita, RNA adalah bahan dasar kehidupan paling primitif, karena RNA adalah sebuah bahan yang mampu menyalin dirinya, sebuah sifat perkembang biakan yang menjadi ciri khas makhluk hidup di bumi dibandingkan dengan benda – benda tidak hidup di sekitarnya. Hingga saat ini RNA masih menjadi inti dari kehidupan virus.
Selanjutnya, selama beberapa milyar tahun, bumi dipenuhi oleh benda – benda berintikan RNA dan variannya yang mampu mereplikasi dirinya sendiri. Benda – benda ini begitu bervariasi dan dengan berbagai reaksi yang ada, lama – kelamaan struktur benda – benda ini semakin rapi dan menjadi sebuah sel. Sel – sel ini pun lama – kelamaan berevolusi membentuk sebuah kehidupan bersama dalam bentuk multisel setelah milyaran tahun.
Evolusi
Keberadaan organisme dengan banyak sel adalah babak baru yang luar biasa bagi apa yang ada di bumi. Berbeda dengan evolusi dari asam amino hingga menjadi sel stabil yang memakan waktu milyaran tahun, hanya dalam beberapa ratus juta tahun sejak organisme di mampu membentuk struktur multi sel, evolusi berhasil melahirkan spesies yang trilyunan kali lebih besar dari sebuah sel dalam bentuk reptil – reptil raksasa yang kita kenal sebagai Dinosaurus.

Selama ratusan juta tahun, Dinosaurus merajai permukaan bumi sebelum akhirnya punah 65 juta tahun yang lalu. Punahnya dinosaurus memberikan kesempatan bagi hewan – hewan yang lebih kecil untuk bisa berevolusi karena kehidupannya tidak lagi terancam mati karena dimakan atau terinjak Dinosaurus, dimana salah satunya adalah para Mamalia.
Mamalia berevolusi dengan cepat, dalam beberapa puluh juta tahun saja, telah muncul banyak sekali spesies hasil evolusi mamalia, mulai dari tikus sampai jerapah.
Manusia
Salah satu hasil evolusi mamalia adalah kelompok primata, dimana kelompok ini kelak akan melahirkan spesies yang mendominasi bumi, yaitu manusia. Secara waktu manusia baru berada di bumi ini sekitar 200 ribu tahun. Kalah jauh dibanding waktu yang diperlukan untuk evolusi dari mamalia pertama hingga muncul manusia yang sekitar 65 juta tahun. Apalagi jika dibandingkan masa kekuasaan Dinosaurus yang ratusan juta tahun, atau malah evolusi dalam bentuk sel yang memakan waktu 3 milyar tahun lebih.

Tapi manusia memiliki sebuah ciri khas dibanding primata lain, yaitu struktur mulut yang mampu menghasilkan suara yang sangat beragam. Kita tidak sekedar bisa menggonggong atau mengeong, kita bisa menghasilkan ribuan suku kata dari mulut kita.
Hal ini adalah kunci keberhasilan manusia menaklukkan bumi: Komunikasi.
Berkat mulut yang mampu menghasilkan berbagai macam suara, komunikasi kita tidak terbatas pada menyampaikan emosi dasar seperti marah, lapar, takut atau ingin bercinta saja, kita mampu bercerita dengan mulut kita. Selanjutnya cerita berujung pada pertukaran informasi, dan pertukaran informasi berujung kepada pengayaan pengetahuan.
Dari situlah manusia berhasil menguasi dunia, berkat komunikasi, budaya terbangun, pengetahuan terbagi dan bisa dikembangkan. Hanya dalam 200 ribu tahun, tanpa harus berbadan besar, kita berhasil mendominasi bumi.
Dimanakah Tuhan?
Jika kita bicara secara sejarah, tuhan baru muncul belakangan, sekitar beberapa puluh ribu tahun terakhir saja. Itu pun konsep tuhan awal masih beragam, mulai dari tuhan alam, tuhan dalam bentuk roh nenek moyang dan lain sebagainya. Konsep tuhan dan agama seperti yang kita tahu sekarang sendiri baru lumayan tersusun ketika manusia mampu membentuk budaya menulis, beberapa ribu tahun lalu.
Namun jika bicara secara filosofis, apakah ada sosok pencipta dalam proses panjang 14 milyar tahun di atas?
Zeus, tidak lagi relevan seiring dengan sains
Harus diakui bahwa belum semua pertanyaan di dunia ini terjawab oleh sains modern yang ada sekarang, mengingat usia sains modern sendiri baru sekitar 500 tahun, namun sedikit demi sedikit kita telah berhasil menjelaskan secara ilmiah hal – hal yang tadinya diatributkan sebagai “pekerjaan Tuhan” ataupun hal supranatural lainnya.
Kita tidak lagi memandang bahwa hujan itu dikendalikan oleh Zeus,
Karena kita sudah tahu soal siklus air.
Kita tidak lagi mengira pelangi dilukis oleh Leprechaun,
Karena kita sudah mengerti mengenai pembiasan cahaya.
Kita tidak lagi memandang bahwa manusia terjadi begitu saja,
Karena kita sudah mengerti mengenai evolusi.
Kita tidak lagi mengira matahari, bulan dan bintang mengitari bumi,
Karena kita sudah mengerti soal tatanan alam semesta.
Dan banyak lagi pertanyaan – pertanyaan mendasar yang telah terjawab, meskipun memang masih banyak pertanyaan lain yang belum terjawab, seperti:
Ada apa di balik Big Bang?
Dari mana datangnya gravitasi?
Dari mana asal energi yang terlempar saat Big Bang?
Adakah dunia paralel?
Dan lain sebagainya.
Satu hal yang pasti, semakin lama kita melihat bahwa porsi yang masih bisa diisi tuhan dalam dunia ini terus berkurang setiap saat. Dari tadinya tuhan menciptakan langsung segalanya, kini porsi yang tersisa bagi tuhan “hanyalah” pencipta gravitasi dan peledak big bang, bukan lagi pelukis pelangi ataupun pelempar halilintar.
Kalau ditanya, apakah yang menciptakan gravitasi itu tuhan? Ya kalau kita ingin ber-positive thinking pada keberadaan tuhan ya mungkin saja. Tapi saya sendiri lebih suka yang realistis. Makin lama porsi kekuasaan tuhan di dunia terus dikurangi oleh sains, dan saya cenderung berpikir ke depannya akan semakin sedikit lagi.
Jadi jika kita mencoba merefleksikan kembali, saat ini sains terus menerus membongkar mekanisme alam semesta dan mengambil porsi hal – hal yang tadinya dianggap “karya tuhan” menjadi kejadian alamiah biasa. Eksistensi tuhan saat ini suka tidak suka terpelihara karena 2 hal:
  1. Ketidak tahuan orang akan sains sekuler
  2. Romantisme antara pemeluk agama dengan agama yang dianutnya
Ketidak tahuan akan sains menyebabkan satu – satunya penjelasan mengenai mekanisme alam yang dimengerti seseorang hanyalah dari agama, dan romantisme seseorang dengan agamanya membuat seseorang tetap mencintai agamanya sekalipun harapan akan kebenaran agamanya semakin tereduksi oleh sains, layaknya seorang kekasih yang tetap mendampingi pasangannya walau orang lain telah mengatakan pasangannya itu tidak lagi layak untuk dicintai.
Sayangnya saya orangnya tidak romantis. Mungkin itu saja perbedaan besar antara saya dengan para teis lain yang tetap bertahan mencintai agamanya walaupun mereka juga fasih dalam sains sekuler

Sumber >>> ABAM <<<
Twitter >>> @FS_GarangGarong <<<
Facebook >>> Fahmi Si Garang Garong <<<
Reaksi: 
 

0 komentar:

Donasi

Jika Anda Suka Dengan Hasil Kerja Keras Saya,
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Dan Mau Berdonasi,
________________________________

Silahkan Kirim Ke Rek BCA : 3970005454 a/n Fahmi Permana
________________________________________

Berapapun Donasinya Akan Sangat Berarti Bagi Saya Kedepannya.
_____________________________________________________________

Terima Kasih Yang Sebanyak-Banyaknya Jika Anda Berkenan Berbagi Kebaikan Dengan Saya.
_____________________________________________________________________________________

Tulisan Ini Diketik Oleh : Fahmi Permana
***********************************